Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: H. Yogi Prana
Izza, Lc. MA
Oleh :
1. Achmad Chumaidi (201955010104751)
2. Siti Hidayatul Muslimah (201955010104911)
JURUSAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA
ISLAM SUNAN GIRI BOJONEGORO
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, saya panjatkan puji syukur atas kehadirat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik serta
hidayah-Nya kepada sehingga saya bisa
menyelesaikan tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu dengan judul ” ciri –
ciri ilmu pengetahuan ilmiah” tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Saya
selaku penyusun dari makalah ini menyampaikan terima kasih kepada dosen
pengampu pada mata kuliah Filsafat Ilmu yaitu Bapak H. Yogi Prana Izza, Lc. MA
yang telah memberi saya arahan, bimbingan serta nasihat dalam pembuatan makalah
ini.
Saya
selaku penyusun dari makalah ini mengakui bahwa penyusunan makalah di sini
masih jauh dari kata sempurna. Sehingga saya perlu adanya saran serta kritik
yang membangun agar saya dapat memperbaiki serta meningkatkan penyusunan
kualitas daripada makalah ini. Semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai
pemahaman materi dan bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Bojonegoro, 16 April 2020
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengetahuan
berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena
manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara
sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini
terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan
pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini dan
berbagai problema yang menyelimuti kehidupan. Manusia senantiasa penasaran
terhadap cita-cita hidup ini. Yang hendak diraih adalah pengetahuan yang benar,
kebenaran hidup itu
Mengapa manusia berfilsafat? Ini pertanyaan
mendasar yang melandasi manusia berfikir filsafat. Ada tiga hal yang mendorong
manusia untuk berfilsafat, yaitu rasa kagum, keraguan, dan kesadaran akan
terbatasan diri. Bila pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, dan kepastian
dimulai dari rasa ragu, maka filsafat dimulai dari keduanya. Jelas kiranya
bahwa filsafat merupakan kebutuhan manusia untuk memenuhi rasa ingin tahu dan
mendapatkan manfaat dari hidup dan kehidupannya.
Terdapat hubungan timbal balik antara ilmu dan filsafat.
Banyak masalah ilmiah yang meemerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila
pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat
menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang
sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang telat sehingga sejalan
dengan pengetahuan ilmiah.
Dalam makalah ini kami akan membahas
apa itu ilmu pengetahuan, ciri-ciri ilmu
pengetahuan ilmiah dan keterkaitan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan.
Diharapkan makalah ini dapat membantu pembaca dalam menjawab pertanyaan ilmu
pengetahuan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan?
2. Apa ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah?
3. Apa hubungan antara kedudukan filsafat dengan ilmu
pengetahuan?
C.
Tujuan
1. Agar mampu menjelaskan maksud dari ilmu pengetahuan.
2. Agar mengetahui ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah.
3. Agar mengetahui hubungan antara kedudukan filsafat dengan
ilmu pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ilmu Pengetahuan
1.
Pengertian
Ilmu Pengetahuan
Ilmu
pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia
. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu
memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi
merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan
dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui
dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk
karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang
dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi.[1]
Dahulu ilmu pengetahuan adalah
identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat
yang dianutnya. Dalam bukunya De
Opbouw van de Wetenschap (1980) yang kemudian disusun dengan Filosofie
van de Weterchappen (1986) van Peursen menyatakan bahwa dahulu orang lebih
mudah memberi batasan bagaimana ilmu pengetahuan itu daripada sekarang. Dahulu ilmu
pengetahuan adalah identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung
pada sistem filsafat yang dianutnya. Perkembangan filsafat itu sendiri telah
mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “ pohon
ilmu pengetahuan “ telah tumbuh mekar dan bercabang dengan subur.
Masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya, berkembang mandiri
dan masing-masing mengikuti metedologinya sendiri-sendiri.[2]
Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa
inggris science, yang berasal dari bahasa latin scientia dabi
bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui.
Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga
menunjuk pada segenap pengetahuan sistematik. Dalam bahasa Jerman wissenschaft.
Dari aktivitas ilmiah dengan metode ilmiah
yang dilakukan oleh para ilmuwan dapatlah dihimpun sekumpulan pengetahuan yang
baru atau disempurnakan pengetahuan yang telah ada, sehingga di kalangan
ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya terdapat kesepakatan bahwa ilmu adalah
sesuatu kumpulan pengetahuan yang sitematis.[3]
Ø Memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup
Ø Mengembangkan arti kehidupan
Ø Mempertahankan kehidupan dan kemanusiaan itu
sendiri.
3. Cara memperoleh Pengetahuan
1. Melakukan pengamatan dan observasi yang dilaksanakan
secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang
menjadi pengetahan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan
segala ciri,sifat dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut.
2. Melalui pengamatan pribadi manusia yang terjadi
berulangkali
3. Melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai
rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori,
tidak menekankan pada pengalaman.[5]
B.
Ciri Ilmu
Pengetahuan/Pengetahuan Ilmiah
Ilmu
pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak
(intersubjektif). Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri,
bukan milik perorangan (subjektif) tetapi merupakan konsensus antar subjek
(pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan ilmiah itu harus
ditopang oleh komunitas ilmiah.
Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
ciri-ciri ilmu (pengetahuan) setidaknya memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1.
sistematis; para filsuf
dan ilmuwan sepaham bahwa ilmu adalah pengetahuan atau kumpulan pengetahuan
yang tersusun secara sistematis. Ciri sistematis ilmu menunjukkan bahwa ilmu
merupakan berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan tersebut mempunyai hubungan-hubungan saling ketergantungan yang
teratur (pertalian tertib). Pertalian tertib dimaksud disebabkan, adanya suatu
asas tata tertib tertentu di antara bagian-bagian yang merupakan pokok soalnya.
2.
empiris; bahwa ilmu mengandung pengetahuan yang diperoleh
berdasarkan pengamatan serta percobaan-percobaan secara terstruktur di dalam
bentuk pengalaman-pengalaman, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ilmu
mengamati, menganalisis, menalar, membuktikan, dan menyimpulkan hal-hal empiris
yang bersifat faktawi (faktual), baik berupa gejala atau kebatinan,
gejala-gejala alam, gejala kejiwaan, gejala kemasyarakatan, dan sebagainya.
Semua hal fakta dimaksud dihimpun serta dicatat sebagai data (datum) sebagai
bahan persediaan bagi ilmu. Ilmu, dalam hal ini, bukan sekedar fakta, tetapi
fakta-fakta yang diamati dalam sebuah aktivitas ilmiah melalui pengalaman.
Fakta bukan pula data, berbeda dengan fakta, data lebih merupakan berbagai
keterangan mengenai sesuatu hal yang diperoleh melalui hasil pencerapan atau
sensasi inderawi.
3.
obyektif; bahwa ilmu menunjuk pada bentuk pengetahuan yang bebas
dari prasangka perorangan (personal bias), dan perasaan-perasaan subyektif
berupa kesukaan atau kebencian pribadi. Ilmu haruslah hanya mengandung
pernyataan serta data yang menggambarkan secara terus terang atau mencerminkan
secara tepat gejala-gejala yang ditelaahnya. Obyektifitas ilmu mensyaratkan
bahwa kumpulan pengetahuan itu haruslah sesuai dengan obyeknya (baik obyek material
maupun obyek formalnya), tanpa diserongkan oleh keinginan dan kecondongan
subyektif dari penelaahnya.[6]
4.
analitis; bahwa ilmu berusaha
mencermati, mendalami, dan membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian
yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari
bagian-bagian tersebut. Upaya pemilahan atau penguraian sesuatu kebulatan pokok
soal ke dalam bagian-bagian, membuat suatu bidang keilmuan senantiasa
tersekat-sekat dalam cabang-cabang yang lebih sempit sasarannya. Melalui itu,
masing-masing cabang ilmu tersebut membentuk aliran pemikiran keilmuan baru
yang berupa ranting-ranting keilmuan yang terus dikembangkan secara khusus
menuju spesialisasi ilmu.
5.
verifikatif; bahwa ilmu mengandung kebenaran-kebenaran yang terbuka untuk
diperiksa atau diuji (diverifikasi) guna dapat dinyatakan sah (valid) dan
disampaikan kepada orang lain.Pengetahuan, agar dapat diakui kebenarannya
sebagai ilmu, harus terbuka untuk diuji atau diverifikasi dari berbagai sudut
telaah yang berlainan dan akhirnya diakui benar. Ciri verifikatif ilmu
sekaligus mengandung pengertian bahwa ilmu senantiasa mengarah pada tercapainya
kebenaran. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur
dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah.
Contohnya, sebelum ada ilmu maka orang sulit mengerti dan
meramalkan, serta menguasai gejala atau peristiwa-peristiwa alam, seperti;
hujan, banjir, gunung meletus, dan sebagainya. Orang, karena itu, lari kepada
takhayul atau mitos yang gaib. Namun, demikian, setelah adanya ilmu, seperti;
vulkanologi, geografi, fisis, dan kimia maka dapat menjelaskan secara tepat dan
cermat bermacam-macam peristiwa tersebut serta meramalkan hal-hal yang akan
terjadi kemudian, dan dengan demikian dapat menguasainya untuk kemanfaatan diri
atau lingkungannya. Berdasarkan kenyataan itu lah, orang cenderung mengartikan
ilmu sebagai seperangkat pengetahuan yang teratur dan telah disahkan secara
baik, yang dirumuskan untuk maksud menemukan kebenaran-kebenaran umum, serta tujuan
penguasaan, dalam arti menguasai kebenaran-kebenaran.
Selain, kelima
ciri ilmu di atas, masih terdapat beberapa ciri tambahan lainnya, misalnya;
ciri instrumental dan ciri faktual. Ciri instrumental, dimaksudkan bahwa ilmu
merupakan alat atau sarana tindakan untuk melakukan sesuatu hal. Ilmu dalam hal
ini sukar namun, juga amat muda dalam arti, senantiasa merupakan sarana
tindakan untuk melakukan banyak hal yang mengagumkan dan membanjiri dunia
dengan ide-ide baru. Ilmu berciri faktual, dalam arti, ilmu tidak memberikan
penilaian, baik atau buruk terhadap apa yang ditelannya, tetapi hanya
menyediakan fakta atau data bagi sepengguna. Pandangan terakhir ini, oleh
filsuf kritis telah ditolah karena, menurut mereka ilmu sebagai sebuah hasil
budaya manusia, selalu bertautan atau berhubungan dengan nilai. [7]
Beraling
(1986) dalam Akhyar Yusuf Lubis mengatakan bahwa ciri-ciri ilmu pengetahuan
adalah:
a.
Anggapan
bahwa pengetahuan berlaku umum
b.
Ilmu
pengetahuan mempunyai kedudukan mandiri (otonom) dalam mengembangkan norma-norma
ilmiah
c.
Pengetahuan
ilmiah mempunyai dasar pembenaran
d.
Pengetahuan
ilmiah bersifat sistematik
e.
Pengetahuan
ilmiah bersifat objektif
Sedangkan Van
Melsen mengemukakan ciri-ciri pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan) sebagai
berikut:
a.
Metodis
(memiliki metode logis dan koheren sebagai dasar pembenaran teori)
b.
Memiliki
sistem (sistematis)
c.
Universal
(berlaku dimana saja)
d.
Objektif
e.
Progresif
f.
Dapat
digunakan
g.
Tanpa pamrih
Adapun Robert
Merton, seorang seorang sosiolog (terkait metode ilmiah), mengemukakan ciri-ciri
metode ilmiah yang diterima secara luas yakni:
a.
Universal
b.
Komunisme
c.
Ketanpa-pamrihan
d.
Skeptisisme
C.
Kedudukan filsafat terhadap Ilmu Pengetahuan
Filsafat adalah induk dari ilmu Pengetahuan
(mater scientiarium) yang melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang membahas
sesuai dengan apa yang telah di kaji dan diteliti didalamnya. Dalam hal metode
dan obyek studinya, filsafat berbeda dengan ilmu Pengetahuan, ilmu Pengetahuan
menyelidiki masalah dari satu bidang khusus saja, dengan selalu menggunakan
metode observasi dan eksperimen dari fakta-fakta yang dapat diamati. Sementara
filsafat berpikir sampai di belakang fakta-fakta yang nampak. Dalam ilmu
Pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok.
Karena filsafat lah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia
dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau Pengetahuan. Memang lambat
laun beberapa ilmu-ilmu Pengetahuan itu akan melepaskan diri dari filsafat akan
tetapi tidaklah berarti ilmu itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari
filsafat. Filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk
dijadikan pegangan manusia.
Sedangkan kajian yang dibahas dalam
filsafat ilmu adalah meliputi hakekat (esensi) pengetahuan, artinya filsafat
ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem- problem mendasar ilmu
pengetahuan seperti; ontologi ilmu, epistimologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dari ketiga landasan tersebut,
bila dikaitkan dengan Islamisasi ilmu pengetahuan maka letak filsafat
ilmu itu terletak pada ontologi dan epistimologinya. Pada dasarnya filsafat bertugas
memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori
suatu displin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan
disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori substantif.
Bisa
disimpulkan bahwa ilmu Pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara
lain:
a. Setiap ilmu Pengetahuan itu mempunyai objek dan problem.
b. Filsafat juga memberikan dasar-dasar
yang umum bagi semua ilmu Pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan
keadaan dari ilmu Pengetahuan itu.
c. Di samping itu filsafat juga membrikan dasar-dasar yang
khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu Pengetahuan.
d. Dasar yang diberikan oleh filsafat
yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu Pengetahuan tidak mungkin tiap
ilmu itu meninggalkan dirinya sebagai ilmu Pengetahuan dengan meninggalkan
syarat yang telah ditentukan oleh filsafat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Dari
aktivitas ilmiah dengan metode ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan dapatlah
dihimpun sekumpulan pengetahuan yang baru atau disempurnakan pengetahuan yang telah
ada, sehingga di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya terdapat
kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan yang sitematis.
2. Ciri-Ciri Ilmu :
a. Empiris: Berdasarkan pengamatan dan percobaan
b. Sistematis: Tersusun secara logis serta mempunyai
hubungan saling tergantung dan teratur
c. Objektif: Terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi
d. Analistis: Menguraikan persoalaan menjadi bagian-bagian
yang terinci.
e. Verikatif: Dapat diperiksa kebenaranya
Ilmu perlu dasar empiris, apabila seseorang memberikan
keterangan ilmiah maka keterangan itu harus memungkinkan untuk dikaji dan
diamati, jika tidak maka hal itu bukanlah suatu ilmu atau pengetahuan ilmiah
melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan kepada
keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak.
Disamping itu ilmu juga harus objektif dalam arti suka
atau tidak harus dihindari kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu
hanya pada fakta yang ada. Anlitis merupakan ciri ilmu lainya, artinya bahwa
penjelasan ilmiah perlu menguarai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih
berkaitan dengan dunia empiris. Sedangkan verikratif berarti bahwa ilmu atau
penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian
dilapangan sehingga kebenaranya bisa benar-benar memberikan kenyataan.
3.
Dalam ilmu Pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal,
atau pokok.
DAFTAR
PUSTAKA
Aceng Rahmat Dalam Sabarti Akhadiah Dan Wanda Dewi Listyasari,
2011 hal 15
Surajiyo. 2007.
Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indinesia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tim dosen filsafat ilmu. 2007. Filsafat ilmu: sebagai dasar pengembangan
ilmu pengetahuan. Yogyakarta: liberty Yogyakarta.
Yusuf Akhtiyar Lubis. 2015. Filsafat Ilmu: Klasik hingga
kontemporer. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
[2] Tim dosen filsafat ilmu, Filsafat ilmu: sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.
(Yogyakarta: liberty Yogyakarta, 2007). Hal 1
[3] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indinesia. (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007). Hal 55-56
[4] https://www.academia.edu/7463480/pengertian_filsafat_dan_kedudukan_filsafat_dalam_pengetahuan diakses pada tanggal 16 April 2020 jam 15.00
[5] https://www.academia.edu/7463480/pengertian_filsafat_dan_kedudukan_filsafat_dalam_pengetahuan diakses pada tanggal 16 April 2020 jam 15.00
[6] http://kuliah.unpatti.ac.id/mod/page/view.php?id=13/
pengetahuan ilmiah diakses pada tangga 16 April 2020 jam 16.00
[7] http://kuliah.unpatti.ac.id/mod/page/view.php?id=13/pengetahuan
ilmiah diakses pada tangga 16
April 2020 jam 16.00
[8]Akhtiyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu: Klasik hingga kontemporer. (Jakarta: PT
RAJAGRAFINDO PERSADA, 2015). Hal 68-70.
[9] https://www.academia.edu/7463480/pengertian_filsafat_dan_kedudukan_filsafat_dalam_pengetahuan diakses pada tangga 16 April 2020 jam 16.00



Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances