Sejak akhir 2019, dunia di gegerkan dengan kemunculan coronavirus disease 2019, penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Sala...

DAMPAK PANDEMI COVID-19 BAGI PEREMPUAN



Sejak akhir 2019, dunia di gegerkan dengan kemunculan coronavirus disease 2019, penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Salah satu jenis coronavirus ini, pertama kali di temukan di Wuhan, Cina pada 17 November 2019, kemudian dengan cepat menyebar dan menginfeksi manusia.
Persebaran virus yang mencapai 118.000 kasus positif, dengan kematian 4.291 orang dan menyebar di 114 negara pada 11 maret 2020, membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa Covid-19 sebagai pandemic global, yang artinya, mengirim tanda bahaya ke seluruh penjuru dunia, bahwa virus ini benar-benar mengancam keselamatan manusia.
Sejarah awal gerakan perempuan di dunia tercatat di tahun 1800-an. Ketika itu para perempuan menganggap ketertinggalan mereka di sebabkan oleh kebanyakan perempuan masih buta huruf, miskin dan tidak mempunyai keahlian. Karenanya gerakan perempuan awal ini lebih mengedepankan perubahan system social dimana perempuan diperbolehkan ikut memilih dalam pemilu. Tokoh-tokoh perempuan ketika itu di antara lain Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton dan Marry Wollstonecraft. Bertahun-tahun mereka berjuang, turun jalan dan 200 aktivis perepuan sempat di tahan ketika itu.
Seratus tahun kemudian, parempuan-perempuan kelas menengah abad indutrialisasi mulai menyadari kurrangnya peran mereka di masyarakat. Mereka mulai keluar rumah dan mengamati banyaknya ketimpangan social dengan korban para perempuan. Pada saat itu benih-benih feminisme mulai muncul, meski dibutuhkan seratus tahun lagi untuk menghadirkan seorang feminis yang dapat menulis secara teorityis tentang persoalan perempuan. Adalah Simone De Beauvoir, seorang filsuf prancis yang menghasilkan karya pertama berjudul The Second Sex. Dan dua puluh tahun setelah kemunculan buku itu, pergerakan perempuan barat mengalami kemajuan yang sangat pesat, persoalan ketidakadilan, seperti upah yang tidak adil, cuti haid, aborsi hingga kekerasan mulai didiskusikan secara terbuka.
Pergerakan perempuan baik di tahun 1800-an maupun 1970-an telah membawa dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari perempuan. Tetapi bukan berarti perjuangan perempuan berhenti sampai di situ, Wacana-wacana baru terus bermunculan hingga kini. Perjuangan perempuan adalah perjuangan tersulit dan terlama, berbeda dengan perjuangan kemerdekaan atau rasial. Musuh perempuan seringkali tidak berbentuk dan bersembunyi dalam kamar-kamar pribadi. Karenanya perjuangan kesetaraan perempuan tetap akan bergulir sampai kami berdiri tegap seperti manusia lainnya yang di ciptakan Tuhan.
Kemerdakaan Indonesia yang diproklamasikan 75 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, tidak terlepas dari peran pejuang perempuan yang memiliki semangat perjuangan dan keberanian yang luar biasa, bahkan melebihi semangat kejuangan para lelaki pada umumnya. Perjuangan perempuan pada saat itu dilatari semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah, saat itu perjuangan perempuan dibagi menjadi tiga babak, yaitu,; (1) Perempuan mengangkat senjata; (2) perempuan mendidik; (3) perempuan berpolitik dan berorganisasi.
Sejak datang pada akhir abad XVI (1596),selama ratusan tahun belanda terus mengeruk keuntungan dari tanah Indonesia yang menjadi jajahannya. Mereka melakukan monopoli perdagangan, merampas, dan mengeluarkan kebijakan tanam paksa. Diperlakukan sewenang-wenang seperti itu, muncul perlawanan di seluruh Indonesia. Sejumlah nama perempuan di beberapa daerah muncul pada saat itu, bersama kaum laki-laki mereka turut mengangkat senjata mengusir penjajah, seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Muthia di Aceh; Raden Ayu ageng Serang; Roro Gusik (istri Untung Surapati) di jawa; Christina Martha Tiahahu di maluku dll.
Covid-19 sendiri adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayianak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.
Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia). Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala.
Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.
Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:
1.      Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
2.      Batuk
3.      Sesak napas
Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus Corona.
Dalam situasi luar biasa seperti pandemi Covid-19 yang tengah melumpuhkan dunia, perempuan kerap menanggung dampak ganda. Tak terkecuali perempuan di Indonesia. Tersebarnya virus ini memunculkan dampak negative bagi perempuan, terutama bagi seorang ibu, baik bagi ibu rumah tangga ataupun bagi ibu yang berkarir, tentu akan menimbulkan beban extra.
Bagi ibu yang baru melahirkan ditengah pandemi ini misalnya, setelah seorang ibu melahirkan bayinya, ibu tidak dapat langsung memberikan ASI bagi sang anak,sebab sesaat setelah dilahirkan,bayi akan langsung di bawa ke ruang khusus bayi demi mencegah terpapar virus corona. Jangankan untuk memberikan ASI, untuk memeluk sang anak yang baru saja ia lahirkan harus menunggu 24 jam. Bayipun diberikan susu formula sebagai makanan pertamanya. Dalam proses persalinan pun perawat dan dokter serta suami yang menemaninya untuk melahirkan memakai Alat Perlindungan Diri (APD) lengkap. Bisa dibayangkan betapa hal ini memunculkan beban mental bagi sang ibu, tentu perasaan ibu sangat sedih dengan kondisi seperti ini.
Bagi perempuan yang tengah mengandung pandemi ini pasti membuat calon ibu menjadi khawatir. Apalagi seorang perempuan yang sedang hamil haruslah memriksakan kandungannya secara rutin, ditengah maraknya virus ini membuat calon ibu kesulitan menjalani control kandungan, karena beberapa bidan dan dokter kandungan apalagi rumah sakit membatasi aktivitas tersebut demi menjaga penyebaran virus corona ini. Apabila calon ibu ingin melakukan control kandungan harus membuat janji terlebih dahulu dengan dokter atau bidan, tentu hal ini tidak mudah karena biasanya dokter atau bidan tidak hanya menangani sedikit ibu hamil. Ini menjadikan adanya antri atau penyusunan jadwal control yang lama. Selain masalah control kandungan,calon ibu yang terlalu khawatir dengan adanya virus ini serta sering membaca atau mengakses berita tentang corona, akan memicu kecemasan tinggi atau bahkan dapat menimbulkan stress, tentu hal ini tidak baik bagi kesehatan calon ibu dan calon bayi.
Bagi ibu rumah tangga, Dampak mewabahnya virus corona atau Covid-19 mulai dirasakan kalangan ibu-ibu rumah tangga. Seperti melonjaknya harga jual bahan makanan dipasar. Ditengah pandemic ini banyak orang yang berbelanja extra untuk stock bahan pangan dirumah, hal ini sering dilakukan orang yang memiliki taraf ekonomi menengah keatas. Sehingga, membuat stok bahan pangan menipis dan harganya yang melonjak naik. Bagi ibu rumah tangga yang memiliki taraf ekonomi menengah kebawah hal ini sangat membuat khawatir, karena ditengah pandemic ini sumber penghasilan juga menurun, belum lagi bagi para ibu rumah tangga yang suaminya harus di PHK dan kehilangan pekerjaan sebab tempatnya bekerja tak lagi mampu menanggung gaji banyak kariawan. Dengan melonjaknya harga pangan ini ibu rumah tangga harus memutar otak menyajikan makanan untuk keluarganya. Jam operasional pasar yang ditetapkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini juga membuat ibu-ibu harus “mekepung-kepungan” karena singkatnya jam buka pasar. Pasar yang biasanya menerapkan dua kali jam operasional yaitu pasar pagi dari pukul 05.00-16:00 kemudian berlanjut pasar malam dari pukul 17:00-sekitar pukul 23:00 berubah hanya jam pasar pagi saja yang beroprasi.
Bagi perempuan dan ibu yang berkarir pandemi ini menimbulkan masalah baru, dengan adanya lockdown perempuan dan ibu yang berkarir seperti bekerja dikantor harus mulai beradaptasi dengan kegiatan barunya dirumah, yaitu aktivitas bekerja dirumah. Mungkin bagi perempuan yang berkarir hal ini tidak terlalu merepotkan. Karena bekerja bisa dilakukan dengan enjoy dirumah, tapi berbeda dengan seorang ibu yang harus mulai bekerja dirumah. Ibu mendapatkan beban ganda karena harus mengurus pekerjaan rumah, mengontrol belajar anak dan mengerjakan pekerjaan kantor. Seorang ibu harus pintar membagi waktu untuk pekerjaan itu. Sekolah anak yang mulai dilakukan secara online membuat peran ibu dirumah bertambah dengan tugas yang diperoleh anak dari guru atau sekolahnya. Beberapa guru atau sekolah mungkin hanya memberikan tugas tanpa menerangkan materi kepada muridnya. Sehingga peran orangtua terutama ibu untuk menjelaskan dan mengajari anak bertambah. Ibu yang berkarir dan tidak bisa mengatur waktu dengan baik tentu akan kerepotan dan stress dengan pekerjaan ganda ini.
Work from home (WFH) selama pandemic virus corona justru membuat angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kian meningkat sejak ditetapkannya masa pandemic pada bulan maret lalu, berdasarkan data Komnas Perempuan dan P2TP2A angka kejadian KDRT selama periode 16 maret sampai 21 april mencapai 37 kasus padahal sebelumnya pada bulan februari terdapat 29 kasus, artinya pandemic ini membawa dampak yang luar biasa terhadap perempuan, maka dari itu perlunya pemerintah lebih serius menangani pandemic ini semi  kesehatan rakyatnya.
Ironisnya sejak awal virus ini muncul di wuhan dan dunia sedang panic akibat virus ini, pemerintah malah menganggap remeh virus ini dengan kelakar-kelakar menyebalkan dari pemerintahan Jokowi, mulai dari sikap tidak kreatif dengan menyatakan virus ini sulit masuk karena izin yang berbelit-belit, sampai dogma mistis bahwa virus corona bias di tangkal dengan hanya memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ketidakseriusan pemerintah dalam mencegah secara maksimal virus ini terlihat pada tingginya angka penyebaran virus di Indonesia, dan menunjukan kegagagapan pemerintahan jokowi dalam melindungi rakyatnya, Hingga 2 Mei 2020 tercatat 10.551 orang positif dan 800 orang meninggal dunia di Indonesia.
Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam mencegah covid-19 juga perlu di kritisi, pasalnya jika pemerintah serius memperhatikan kesehatan rakyatnya seharusnya pemerintah memberlakukan karantina wilayah berdasarkan UU nomor 6 tahun 2018, pasal 55 ayat (1) bahwa selama dalam Karantina wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah Karantaina wilayah menjadi tanggun jawab pemerintah pusat. Namun pemerintah malah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam bentuk peraturan pemerintah nomor 11 tahun 2020. Dalam aturan ini hanya menyebutkan pembatasan di lakukan secara normatif, seperti meliburkan sekolah, kegiatan keagamaan, dan kegiatan-kegiatan bersifat public lainnya, rakyat di suruh untuk tetap Dirumah saja namun pemerintah tidak menjamin kebutuhan dasar rakyatnya, artinya ini akan semakin menyengsarakan masyarakat yang tingkat ekonominya menengah kebawah.
Dengan melihat apa yang dilakukan oleh pemerintah kita, rasanya tidak mungkin kita hanya menunggu pertolongan dari pemerintah, yang harus kita lakukan sebagai pemuda mahasiswa saat ini adalah memupuk solidaritas sesama rakyat, dengan menumbuhkan budaya tolong-menolong antar sesama manusia, untuk bersama-sama menghadapi dan melawan virus corona ini.
Ketahanan pangan yang paling mungkin kita lakukan saat ini adalah dengan berbagi antar tetangga, dan menjalankan fungsi manusia sebagai makhluk social, yaitu saling tolong-menolong antar tetangga, Karena pedesaan yang mayoritas pertanian, adalah ketahanan pangan yang paling kuat, dengan berbesar hati memperhatikan antar tetangga dan hidup rukun bersam-sama dengan kecukupan pangan.

0 komentar: